Friday, March 5, 2010

Menghitung Momen Gaya dalam Statika Bangunan”


HMM… nyari2 ARTIKEL BUAT NGISI Tentang Mekanika Rekayasa1…
Mata Kuliah yang paling aku sukai yang Membicarakan tentang gaya2.. yang berpengaruh pada suatu bidang..
Berhasil menemukan Modul Pembelajarannya… tapi yang ku temuin… dibuat oleh temen2 dari TIM FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA…
Judul modul ini adalah “Menghitung Momen Gaya dalam Statika Bangunan” merupakan bahan ajar yang digunakan sebagai panduan praktikum peserta diklat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk membentuk salah satu bagian dari kompetensi Menghitung Statika Bangunan

Sebagian isinya..:


Pembebanan (loading) pada Konstruksi Bangunan telah diatur pada Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung (PPIUG) tahun 1983. Oleh karena itu supaya lebih mendalam diharapkan peserta diklat membaca peraturan tersebut, karena dalam uraian berikut hanya diambil sebagian saja.
Ada 5 macam pembebanan yaitu :
a. Beban mati (berat sendiri konstruksi dan bagian lain yang melekat)
b. Beban hidup (beban dari pemakaian gedung seperti rumah tinggal,
kantor, tempat pertunjukkkan)
c. Beban angin (beban yang disebabkan oleh tekanan angin)
d. Beban gempa (beban karena adanya gempa)
e. Beban khusus (beban akibat selisih suhu, penurunan, susut dan
sebagainya)
Berdasarkan wujudnya beban tersebut dapat diidealisasikan sebagai (1) beban terpusat, (2) beban terbagi merata, (3) beban tak merata (beban bentuk segitiga, trapesium dsb). Beban-beban ini membebani konstruksi (balok, kolom, rangka, batang dsb) yang juga diidealisasikan sebagai garis sejajar dengan sumbunya. Beban terpusat adalah beban yang titik singgungnya sangat kecil yang dalam batas tertentu luas bidang singgung tersebut dapat  diabaikan. Sebagai contoh beban akibat tekanan roda mobil atau motor, pasangan tembok setengah batu di atas balok, beton ataupun
baja dsb. Satuan beban ini dinyatakan dalam Newton atau turunannya kilonewton (kN). Lihat gambar 1.
Beban merata adalah beban yang bekerja menyentuh bidang konstruksi yang cukup luas yang tidak dapat diabaikan. Beban ini dinyatakan dalam satuan Newton/meter persegi ataupun newton per meter ata u yang sejenisnya lihat gambar 2.
Beban tidak merata dapat berupa beban berbentuk segitiga baik satu sisi maupun dua sisi, berbentuk trapesium dsb. Satuan beban ini dalam newton per meter pada bagian ban yang paling besar lihat
gambar 3.
Berikut ini dicuplikkan beberapa beban bahan bangunan menerut PPIUG 1983 halaman 11.
1.    Baja beratnya 7850 kg/m3,
2.    Batu gunung beratnya 1500 kg/m3
3.    batu pecah beratnya 1450 kg/m3,
4.    beton beratnya 2200 kg/m3,
5.    beton bertulang beratnya 2400 kg/m3,
6.    kayu kelas 1 beratnya 1000 kg/m3 dan
7.    pasangan bata merah 1700 kg/m3.
Contoh perhitungan beban :
Hitunglah beban yang bekerja pada balok beton bertulang ukuran 30 cm x 60 cm yang ditengah-tengahnya terdapat tembok pasangan setengah batu lebar 15 cm yang dipasang melintang dengan ukuran tinggi 3 m, panjang 4 m.
Jawaban :
Berat sendiri balok   = 0.3 m x 0.6 m x 2400 kg/m3
                                     = 432 kg/m (kg/m gaya)
Gravitasi bumi           = 10 kg/ms2 maka beban menjadi 4320 N/m = 432 kN/m
Berat tembok sebagai beban terpusat sebesar :
= 0.15 m x 3 m x 4 m x 1700 kg/m3
= 3060 kg (kg gaya) = 30600 N = 30.6 kN
Secara visual dapat dilihat pada gambar 4.


Pada konstruksi bangunan beban yang diperhitungkan bukan hanya beban mati seperti yang telah diuraikan di atas, tetapi dikombinasikan dengan beban hidup yang disebut dengan pembebanan tetap, bahkan ada kombinasi yang lain seperti dengan beban angin menjadi pembebanan sementara. Bila pada contoh di atas, balok digunakan untuk menyangga ruang rumah tinggal keluarga, maka menurut PPIUG halaman 17 besarnya beban hidup sebesar 200 kg/m2. Bila luas lantai yang dipikul balok sebesar 2 m tiap panjang balok (dalam contoh di atas beban lantai tidak dihitung) maka beban karena beban hidup adalah 200 kg/m2 x 2 m = 400 kg/m (kg gaya/m) = 4000 N/m = 4 kN/m. Dengan demikian beban tetap yang bekerja pada balok adalah 4,32 + 4 = 8,32 kN/m yang secara visual dapat dilihat
pada gambar 5.
Dilihat dari persentuhan gaya dan yang dikenai gaya, beban dapat dibedakan sebagai beban langsung dan beban tidak langsung. Beban langsung adalah beban yang langsung mengenai benda, sedang beban tidak langsung adalah beban yang membebani benda dengan perantaraan benda lain (lihat gambar 6 ).
a. Pengertian Gaya
Gaya dapat didefisinikan sebagai sesuatu yang menyebabkan benda (titik materi) bergerak baik dari diam maupun dari gerak lambat menjadi lebih lambat maupun lebih cepat. Dalam teknik bangunan gaya berasal dari bangunan itu sendiri berat
benda di atasnya atau yang menempelnya, tekanan angin, gempa, perubahan suhu dan pengaruh pengerjaan. Gaya dapat digambarkan dalam bentuk garis (atau
kumpulan garis) yang memiliki dimensi besar, garis kerja, arah kerja dan titik tangkap. Satuan gaya menurut Sistem Satuan Internasional (SI) adalah Newton dan turunannya (kN). Akan tetapi ada yang memberi satuan kg gaya (kg). Bila gravitasi bumi diambil
10 m/detik2 maka hubungan satuan tersebut adalah 1 kg gaya (atau sering ditulis 1 kg) ekuivalen dengan 10 Newton. Pada gambar 8 dijelaskan pengertian gaya tersebut.
b. Kesetaraan gaya
Kesetaraan gaya adalah “kesamaan pengaruh” antara gaya pengganti (resultan) dengan gaya yang diganti (gaya komponen) tanpa memperhatikan titik tangkap gayanya. Dengan demikian pada suatu keadaan tertentu, walaupun gaya sudah setara atau ekuivalen, ada perbedaan pengaruh antara gaya pengganti dengan yang diganti.
Pada prinsipnya gaya dikatakan setara apabila gaya pengganti dan penggantinya baik gerak translasi maupun rotasi besarnya sama. Pada gambar 9 gaya P yang bertitik tangkap di A dipindahkan di B dalam garis kerja yang sama adalah setara (dalam arti efek gerak translasi dan rotasinya) tetapi hal ini dapat berpengaruh terhadap jenis gaya yang dialami benda, pada waktu titik tangkap gaya di A mengalami gaya tekan, sedang pada waktu di B benda mengalami gaya tarik.
c. Keseimbangan Gaya
Keseimbangan gaya adalah hampir sama dengan kesetaraan gaya bedanya pada arah gayanya. Pada kesetaraan gaya antara gaya pengganti dengan gaya yang diganti arah yang dituju sama, sedang pada keseimbangan gaya arah yang dituju berlawanan, gaya pengganti (reaksi) arahnya menuju titik awal dari gaya yang diganti (aksi). Pada gambar 10 divisualisasikan keseimbangan gaya.
Dengan kata lain keseimbangan gaya yang satu garis kerja dapat dikatakan bahwa gaya aksi dan reaksi besarnya sama tapi arahnya berlawanan.

Pada statika bidang (koplanar) ada dua macam keseimbangan yaitu keseimbangan translasi (keseimbangan gerak lurus) dan keseimbangan rotasi (keseimbangan gerak berputar).
Untuk mencapai keseimbangan dalam statika disyaratkan ? Gy = 0 (jumlah gaya vertikal = 0), ?Gx = 0 (jumlah gaya horisontal = 0) dan ?M=0 (jumlah momen pada sebuah titik =0)
d. Pengertian Momen
Momen gaya terhadap suatu titik didefisinikan sebagai hasil kali antara gaya dengan jaraknya ke titik tersebut. Jarak yang dimaksud adalah jarak tegak lurus dengan gaya tersebut. Momen dapat diberi tanda positif atau negatif bergantung dari perjanjian
yang umum, tetapi dapat juga tidak memakai perjanjian umum, yang penting bila arah momen gaya itu berbeda tandanya harus berbada. Pada gambar 11 diperlihatkan momen gaya terhadap suatu titik.
Di samping momen terhadap suatu titik ada juga momen kopel yang didefinisikan sebagai momen akibat adanya dua buah gaya yang sejajar dengan besar sama tetapi arahnya berlawanan.
Gambar 12 menunjukkan momen kopel tersebut.
Momen dapat digambar dalam bentuk vektor momen dengan aturan bahwa arah vektor momen merupakan arah bergeraknya sekrup yang diputar oleh momen. Lihat gambar 13.
e. Momen Statis
Menurut teori Varignon momen pada suatu titik dikatakan statis bila besarnya momen gaya pengganti (resultan) sama dengan gaya yang diganti.
? Contoh :
Gaya P1 dan P2 dengan jaraklmempunyai resultan R. Tentukan letak R agar momen di titik A statis.

? Jawab :



Misal jarak R dengan P1 (titik A) = a, maka untuk memenuhi momen
statis di A adalah : momen resultan = jumlah momen komponen.
f. Menyusun Gaya yang Setara
Istilah lain menyusun gaya adalah memadu gaya atau mencari resultan gaya. Pada prinsipnya gaya-gaya yang dipadu harus setara (ekuivalen) dengan gaya resultannya
1)    Menyusun Gaya yang Kolinier
2)    Menyusun Dua Gaya yang Konkuren
3)    Menyusun Beberapa Gaya Konkuren

Juga dikasih tau cara mencari besar dan arah resultan. Dengan cara Analisi dan Grafis..

Untuk Materi Lebih Lengkapnya download aja DISINI

Thursday, March 4, 2010

STRUKBANG 1


STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG
Struktur Bangunan
Pertemuan I
MACAM BANGUNAN
  1. GEDUNG

  2. TRANSPORTASI

  3. AIR

1.1 GEDUNG :
A. PRIVATE/ PEMUKIMAN
RUMAH TINGGAL
RUMAH SUSUN
KONDOMINIUM
VILLA DLL
B. PUBLIK
PENDIDIKAN
PERKANTORAN
GEDUNG PERTEMUAN
GEDUNG LAYANAN KESEHATAN
GRDUNG PERTUNJUKAN DLL
C. INDUSTRI
PABRIK
PLTA/ PLTD/PLTU
PDAM
INSTALASI KHUSUS (IPAL, PLTN)

PENGERTIAN STRUKTUR
STRUKTUR PADA BANGUNAN DAPAT DIARTIKAN SEBAGAI TULANG-TULANG RANGKA PADA BADAN MANUSIA. DENGAN ADANYA RANGKA TERSEBUT, MAKA BADAN MANUSIA DAPAT TEGAK BERDIRI DAN BERFUNGSI MENJALANKAN PEKERJAAN DENGAN SEMPURNA. PADA BANGUNAN, STRUKTUR MERUPAKAN KERANGKA SOSOK BANGUNAN KESELURUHAN YANG MEMUNGKINKAN BANGUNAN BERDIRI SEMPURNA.
PADA DASARNYA, STRUKTUR BANGUNAN DAPAT DIKELOMPOKKAN KE DALAM DUA BAGIAN, YAITU:
  1. STRUKTUR PEMIKUL BEBAN BANGUNAN, YANG TERDIRI ATAS PONDASI DENGAN SEGALA PERLENGKAPANNYA

  2. RANGKA BANGUNAN, YANG MELIPUTI PENYANGGA, LANTAI, ATAP, DAN BAGIAN-BAGIAN BANGUNAN LAINNYA

PERANCANGAN BANGUNAN BIASANYA DIMULAI DARI PERANCANGAN DENAH DAN DIIKUTI DENGAN TAMPAK, DAN POTONGANNYA. PERANCANGAN STRUKTUR BIASANYA BELAKANGAN, SETELAH DIKAITKAN DENGAN RANCANGAN POTONGAN BANGUNAN.
TETAPI HAL TERSEBUT TIDAK SELALU BERLAKU DEMIKIAN. ADA KALANYA PERANCANGAN STRUKTUR BAGUNAN TERSEBUT DILAKUKAN SECARA SIMULTAN, BERSAMAAN TAHAP PEMIKIRANNYA DENGAN TAHAP PEMIKIRAN DENAH, TAMPAK, DAN POTONGAN BANGUNAN. MENGENAI CARA MANA YANG PALING TEPAT, SANGAT TERGANTUNG DARI MASING-MASING PERENCANA; BIASANYA TERGANTUNG PULA PADA JENIS BANGUNAN YANG HARUS DIRANCANG.
TERLEPAS DARI LANGKAH MANAPUN YANG AKAN KITA LAKUKAN LEBIH DAHULU, SEBAIKNYA ANTARA STRUKTUR DAN DENAH-TAMPAK-POTONGAN DPAT DICIPTAKAN ADANYA KETERPADUAN YANG MATANG, SEHINGGA HASIL AKHIR RANCANGAN YANG KITA DAPATKAN BENAR-BENAR MERUPAKAN RANCANGAN YANG DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN BAIK DARI SEGI PERANCANGAN MAUPUN STRUKTURNYA.

ANATOMI STRUKTUR
STRUKTUR BAGI BANGUNAN MERUPAKAN SARANA UNTUK MENYALURKAN BEBAN DAN AKIBAT PENGGUNAAN DAN ATAU KEHADIRAN BANGUNAN KE DALAM TANAH. STUDI TENTANG STRUKTUR MENYANGKUT PEMAHAMAN PRINSIP-PRINSIP DASAR YANG MENUNJUKKAN DAN MENANDAI PERILAKU OBJEK-OBJEK FISIK YANG DIPENGARUHI OLEH GAYA. STUDI TENTANG STRUKTUR DALAM HUBUNGANNYA DENGAN BANGUNAN JUGA MENYANGKUT PENANGANAN POKOK PERSOALAN YANG LEBIH JAUH TENTANG RUANG DAN UKURAN. KATA-KATA UKURAN, SKALA, BENTUK, PROPORSI, DAN MORFOLOGI SEMUANYA MERUPAKAN ISTILAH YANG BIASA DITEMUKAN DALAM PERANCANGAN STRUKTUR.


TEKNOLOGI SISTEM STRUKTUR DAN PENDEKATAN KONSTRUKSIONAL
PADA PROSES DESAIN, KITA HARUS SELALU MELIHAT SECARA RINCI ALTERNATIF-ALTERNATIF KHUSUS. HANYA DENGAN CARA DEMIKIAN KITA DAPAT MEMAHAMI SEGALA IMPLIKASI DARI BERBAGAI ALTERNATIF, DAN MEMBUAT PILIHAN YANG RASIONAL MENGANI STRUKTUR AKHIR YANG AKAN DIGUNAKAN. PADA TARAF TERSEBUT, PERENCANA AKAN BERHUBUNGAN DENGAN HAL-HAL MENGENAI SISTEM KONSTRUKSI DAN MATERIAL. PERENCANA HARUS MEMPUNYAI PENGETAHUAN YANG LUAS TENTANG PENDEKATAN SECARA KONSTRUKSIONAL.
CARA YANG SANGAT BERGUNA DALAM MENGELOMPOKKAN BERAGAM SISTEM STRUKTUR ADALAH DIDASARKAN ATAS PERILAKU MATERIAL YANG DIGUNAKAN PADA STRUKTUR.

A. KONSTRUKSI KAYU
  1. SISTEM UTAMA
    HAMPIR SEMUA SISTEM STRUKTUR YANG MENGGUNAKAN KAYU SEBAGAI MATERIAL DASAR DAPAT DIKELOMPOKKAN KE DALAM ELEMEN LINEAR YANG MEMBENTANG DUA ARAH.

  2. RANGKA RINGAN

  3. ELEMEN KULIT BERTEGANGAN (STRESSED SKIN ELEMENTS)

  4. BALOK KUBUS

  5. KONSTRUKSI KAYU BERAT

  6. RANGKA BATANG

  7. PLAT LIPAT DAN PANEL PELENGKUNG


B. KONSTRUKSI BETON BERTULANG
  1. SISTEM UTAMA
    BETON BERTULANG ADALAH MATERIAL YANG SANGAT BANYAK DIGUNAKAN DAN SELALU MERUPAKAN JENIS ELEMEN STRUKTURAL YANG KAKU.

  2. SLAB DAN BALOK

  3. KONSTRUKSI PLAT DATAR (FLAT-PLATE CONSTRUCTION)

  4. KONSTRUKSI SLAB DATAR

  5. SLAB WAFEL

  6. ELEMEN BETON PRA-CETAK



C. KONSTRUKSI BAJA
  1. SISTEM UTAMA

  2. BALOK

  3. KONSTRUKSI KOMPOSIT

  4. PELENGKUNG

  5. STRUKTUR KABEL


Tuesday, March 2, 2010

STRUKBANG 2 GEDUNG BERTINGKAT

 
STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT
GEDUNG  BERTINGKAT
BANGUNAN BERTINGKAT DIBAGI MENJADI DUA (BERDASARKAN KETINGGIAN GEDUNG DAN SPESIFIKASI DAN SYARAT-SYARAT) :
  1. LOW RISE BUILDING (3-4 LANTAI ATAU DGN KETINGGIAN 10 m)

  2. HIGH RISE BUILDING (LBH DARI 4 LANATAI ATAU LEBIH 10 m)

PADA MATA KULIAH INI LEBIH DITEKANKAN PADA PENGERTIAN SELUK BELUK BANGUNAN BERTINGKAT RENDAH SERTA CARA-CARA PENGGAMBARANYA, SEBAGAI DASAR PENGENALAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT. UTK DAPAT MENGANALISIS STRUKTUR BANGUNAN BERTINGKAT SECARA UTUH DAN TERPADU MAKA DISARANKAN UT MEMPELAJARI ILMU-ILMU :
    1. MEKANIKA TEKNIK/ MEKANIKA REKAYASA

    2. FONDASI

    3. BETON

    4. BAJA

    5. GEMPA, DST

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PERANCANGAN BANGUNAN:
1.                   ESTETIKA
                DASAR KEINDAHAN DAN KESERASIAN BANGUNAN YANG AKAN MEMBERIKAN KEBANGGAN PADA PEMILIKNYA
2.            FUNGSIONAL
                DISESUAIKAN DENGAN PEMANFAATNA DAN PENGGUNAANYA SEHINGGA MEMBERIKAN RASA NYAMAN
3.            STRUKTURAL
                STRUKTUR YANG KUAT DAN MANTAP SHG MEMBERIKAN RASA AMAN UNTUK TINGGAL DI DALAMNYA
lanjutan
4.            EKONOMIS
                PENDEMENSIAN (UKURAN STRUKTUR) YANG PROPORSIONAL DAN PEMAKAIAN BAHAN YANG SESUAI SEHINGGA BANGUNAN AWET MEMPUNYAI UMUR YANG PANJANG, PEMELIHARAAN YANG MUDAH.
SYARAT-SYARAT SEBUAH STRUKTUR BANGUNAN :
·         KEKUATAAN (STRENGHT)
-        SALAH SATU KEKUATAN BAHAN BISA DILIHAT DARI SIFAT-SIFAT MEKANIK BAHAN TSB,
-        TEGANGAN (σ), REGANGAN (ε) DST
·         KEKAKUAN (STIFFNESS/ k)
·         KESTABILAN
·         EKONOMIS
·         ESTETIKA
TAHAPAN DALAM PERANCANGAN DAN ANALISIS BANGUNAN BERTINGKAT:
1. TAHAPAN ARSITEKTURAL
-        DENAH SETIAP LANTAI
-        POTONGAN
-        TAMPAK
-        PERPEKTIF
-        DETAIL
-        FASILITAS GEDUNG
-        RAB + RKS
2. TAHAPAN STRUKTURAL
  PEMBEBANAN
  MERENCANAKAN DENAH PORTAL UNTUK MENENTUKAN LETAK KOLOM DAN BALOK UTAMA
  ANALISIS  MEKANIKA UNTUK PENDEMENSIAAN ELEMEN STRUKTUR /RANGKA
  PENYELIDIKAN TANAH UNTUK PERENCAAN PONDASI
3. TAHAPAN FINISHING
  SENTUHAN AKHIR UNTUK KEINDAHAN, MELENGKAPI GEDUNG DENGAN FASILITAS ALAT-LAT MEE à UT PELAYANAN PENGHUNINYA.
2. PEMBEBANAN
BERDASARKAN LAMANYA
1. MATI/ TETAP à BERAT SENDIRI
  ADALAH BERAT DARI SEMUA BAGIAN  BANGUNAN YANG BERSIFAT TETAP, TERMASUK SEGALA UNSUR TAMBAHAN, ALAT  ATAU MESIN YANG MERUPAKAN BAGIAN YANG TDK TERPISAHKAN DENGAN BANGUNAN.
2. HIDUP/ SEMENTARA à ANGIN, AIR HUJAN, SALJU, GEMPA
  ADALAH BERAT DARI PENGHUNI DAN ATAU BARANG-BARANG YANG DAPAT BERPINDAH, YANG BUKAN MERUPAKAN BAGIAN DARI BANGUNAN
BERDASARKAN ARAH BEBAN
  VERTIKAL à BERAT SENDIRI
  HORISONTAL à ANGIN, GEMPA
BERDASARKAN GERAKANNYA
  DIAM / STATIS à BEBAN SENDIRI
  BERGERAK / DINAMIS à GEMPA, MESIN, LEDAKAN BOM
BEBAN GEMPA ADALAH BESARNYA GETARAN YANG TERJADI DI DALAM STRUKTUR RANGKA BANGUNAN AKIBAT ADANYA GERAKAN TANAH OLEH GEMPA, DIHITUNG BERDASARKANA ANALISIS DINAMI.
BERDASARKAN DISTRIBUSI/ PENYEBARAN BEBAN :
  BEBAN MERATA
                BEBAN MERATA PADA SELURUH BIDANG PEMBEBANAN DAN BESARNYA SAMA.
                à AIR DALAM KOLAM, ANGIN, ORANG DALAM GEDUNG PERTEMUAN, DST.
  BEBAN TERPUSAT / TITIK
       DIAM à PEKERJA PD SAAT KONSTRUKSI, BEBAN PADA KOLOM
       BERJALAN à BEBAN GANDAR PADA KENDARAAN, KRAN PENGANGKAT BARANG